26 Oktober 2025 14:49
27 kali dibaca
Nagari Koto Rantang, 26 Oktober 2025 — Hari ini, suasana adat Minangkabau kembali menggetarkan Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang. Masyarakat dari berbagai penjuru nagari berkumpul menyaksikan prosesi sakral Baralek Batagak Pangulu Suku Koto Dt. Basa, sebuah tradisi adat yang telah menjadi tonggak identitas dan jati diri urang Minang.
Prosesi ini bukan sekadar gelaran seremonial, melainkan momentum sakral untuk meneguhkan marwah kaum dan kepemimpinan adat, sebagaimana falsafah luhur Minangkabau:
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Nilai inilah yang menjadi dasar kehidupan masyarakat, tempat adat dan agama berdiri seiring sejalan, saling menguatkan dalam menjaga tatanan sosial dan moral di tengah masyarakat.
Batagak Pangulu merupakan peristiwa yang langka dan sangat berharga. Tidak setiap tahun ia hadir, sebab setiap pengangkatan pangulu menandai lahirnya kembali tanggung jawab besar untuk memimpin kaum dengan kebijaksanaan, menegakkan keadilan, dan menjaga keseimbangan adat di tengah perubahan zaman.
Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, S.Pd, menyampaikan rasa haru dan kebanggaan atas terlaksananya kegiatan adat besar ini.
“Kegiatan Batagak Pangulu adalah napas kebudayaan kita. Di tengah dunia modern, tradisi ini menjadi pengingat bahwa akar dan jati diri kita tidak boleh tercerabut. Inilah simbol kebersamaan, kebijaksanaan, dan kearifan lokal yang harus kita lestarikan,” ujarnya.
Dalam suasana yang khidmat, prosesi berjalan penuh makna. Dentingan talempong berpadu dengan irama gandang tambua, aroma masakan adat menyeruak di udara, sementara para ninik mamak, bundo kanduang, dan generasi muda menyatu dalam semangat kebersamaan.
Kehadiran masyarakat yang tumpah ruah menunjukkan bahwa adat masih hidup di hati anak nagari. Generasi muda terlihat antusias menyaksikan dan belajar dari setiap tahapan upacara, memahami bahwa gelar pangulu bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah dan tanggung jawab besar untuk menjaga kaum serta memelihara adat dan syarak.
Salah satu tokoh adat menuturkan dengan penuh kebanggaan:
“Baralek batagak pangulu Jarang diadokan, kalau indak Mati Batungkek budi kalau indak hiduik bakarilahan". Tradisi seperti inilah yang memperkuat tali adat dan meneguhkan keyakinan kita bahwa adat dan agama adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.”
Dengan terselenggaranya prosesi Batagak Pangulu Suku Koto Dt. Basa ini, Nagari Koto Rantang kembali menorehkan catatan penting dalam perjalanan adat Minangkabau.
Tradisi ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi menegaskan tekad bersama untuk melestarikan nilai luhur yang menjadi pondasi kehidupan nagari — “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”